Suku Betawi adalah
sebuah suku bangsa
di Indonesia yang penduduknya umumnya bertempat tinggal di Jabodetabek dan
sekitarnya. Mereka adalah keturunan penduduk yang bermukim di Batavia (nama
kolonial dari Jakarta) dari sejak abad ke-17. Sejumlah pihak berpendapat bahwa
Suku Betawi berasal dari hasil perkawinan antar etnis dan bangsa pada masa
lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah
keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan
oleh Belanda ke
Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung
pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan
berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti
Sunda, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, Arab, Tionghoa, dan india.
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan
suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu
Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Mengenai asal
mula kata Betawi, menurut para ahli dan sejarahwan, seperti Ridwan Saidi ada
beberapa acuan:
·
Pitawi (bahasa melayu
polinesia purba) yang artinya larangan. Perkataan ini mengacu pada komplek bangunan
yang dihormati di Candi Batu Jaya. Sejarahwan Ridwan Saidi mengaitkan bahwa
komplek bangunan di Candi Batu jaya, Tatar Pasundan, Karawang merupakan sebuah
kota Suci yang tertutup, sementara Karawang, merupakan kota yang terbuka.
·
Betawi (Bahasa Melayu
Brunei) digunakan untuk menyebut giwang. Nama ini
mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten
Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad
ke-11 M.
·
Flora Guling Betawi (cassia glauca),
famili papilionaceae yang merupakan jenis tanaman perdu yang kayunya
bulat seperti guling dan mudah diraut serta kukuh Dahulu kala jenis batang
pohon Betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang
pisau. Tanaman guling Betawi banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah
di pulau Jawa dan Kalimantan. Sementara di Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat, guling Betawi disebut Kayu Bekawi. Ada perbedaan pengucapan
kata "Betawi" dan "Bekawi" pada penggunaan kosakata
"k" dan "t" antara Kapuas Hulu dan Betawi Melayu,
pergeseran huruf tersebut biasa terjadi dalam bahasa Melayu.
Kemungkinan nama
Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada kemungkinan benar. Menurut
sejarahwan Ridwan Saidi pasalnya, beberapa nama jenis
flora selama ini memang digunakan pada pemberian nama tempat atau daerah yang
ada di Jakarta, seperti Gambir, Krekot, Bintaro, Grogol dan
banyak lagi. "Seperti Kecamatan Makasar, nama ini tak ada hubungannya
dengan orang Makassar, melainkan diambil dari jenis rerumputan" Sehingga
kata "Betawi" bukanlah berasal dari kata "Batavia"
(nama lama kota Jakarta pada masa Hindia
Belanda), dikarenakan nama Batavia lebih merujuk kepada wilayah asal
nenek moyang orang Belanda, terlebih lagi naskah-naskah yang ditulis pada tahun
1700 - 1800-an menuliskan nama Batavia sebagai Batafia dan
menyebut nama suku Betawi sebagai Batawi yang menerangkan
posisi suku Betawi yang bukanlah sebuah suku yang terbentuk karena adanya kota
Batavia yang dibangun Belanda.
“ Batavia is the Latin name for the land of the Batavians
during Roman times. This was roughly the area around the city of Nijmegen,
Netherlands, within the Roman Empire. The remainder of this land is nowadays
known as Betuwe. During the Renaissance, Dutch historians tried to promote
these Batavians to the status of "forefathers" of the Dutch people.
They started to call themselves Batavians, later resulting in the Batavian
Republic, and took the name "Batavia" to their colonies such as the
Dutch East Indies, where they renamed the city of Jayakarta to become Batavia
from 1619 until about 1942, when its name was changed to Djakarta (this is the
short for the former name Jayakarta, later respelt Jakarta; see: History of
Jakarta). The name was also used in Suriname, where they founded Batavia,
Suriname, and in the United States where they founded the city and the town of
Batavia, New York. This name spread further west in the United States to such
places as Batavia, Illinois, near Chicago, and Batavia, Ohio. “
Kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang pada
masa hindia belanda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Pemoeda Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923.
1.
Sejarah
Berikut merupakan pemaparan
para ahli tentang sejarah Betawi.
Periode sebelum masehi
Sejarah Betawi diawali
pada masa zaman batu yang menurut Sejarawan Sagiman MD sudah ada sejak
zaman neolitikum.
Arkeolog Uka Tjandarasasmita dalam monografinya "Jakarta Raya dan
Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran" (1977)
secara arkeologis telah memberikan bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang
sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara pada
abad ke-5. Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru
(3500–3000 tahun yang lalu) daerah Jakarta dan sekitarnya di mana terdapat
aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum
pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh masyarakat manusia yang menyebar
hampir di seluruh wilayah Jakarta. Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs
itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai
gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal
pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin
telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.
Sementara Yahya Andi
Saputra (Alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia), berpendapat bahwa
penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala
penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan
adat kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian
menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.
·
Pertama, munculnya
kerajaan-kerajaan pada zaman sejarah.
·
Kedua, kedatangan dan
pengaruh penduduk dari luar Nusa Jawa.
·
Terakhir, perkembangan
kemajuan ekonomi daerah masing-masing.
Penduduk asli Betawi berbahasa
Kawi (Jawa kuno). Di antara penduduk juga mengenal huruf hanacaraka (abjad
bahasa Jawa dan Sunda). Jadi, penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan
sekitarnya sejak zaman dahulu.
Periode setelah masehi
Periode awal
Abad ke-2
Pada abad ke-2, Menurut Yahya
Andi Saputra Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat Kerajaan Salakanagara.
Pada zaman itu perdagangan dengan Cina telah maju. Bahkan, pada tahun 432 M
Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke Tiongkok.
Abad ke-5
Pada akhir abad ke-5 berdiri
kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi sungai Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara merupakan
kelanjutan Kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibu kota kerajaan dipindahkan dari
kaki gunung Salak ke tepi sungai Citarum. Penduduk asli Betawi menjadi rakyat
kerajaan Tarumanagara. Tepatnya letak ibu kota kerajaan di tepi sungai
Candrabhaga, yang oleh Poerbatjaraka diidentifikasi dengan sungai Bekasi. Candra berarti bulan atau sasih, jadi ucapan lengkapnya Bhagasasi atau Bekasi, yang terletak di sebelah timur pinggiran Jakarta. Di
sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka, letak istana kerajaan Tarumanengara
yang termasyhur itu. Raja Hindu ini ternyata seorang ahli pengairan. Raja mendirikan
bendungan di tepi kali Bekasi dan Kalimati. Maka sejak saat itu rakyat
Tarumanagara mengenal persawahan menetap. Pada zaman Tarumagara kesenian mulai
berkembang. Petani Betawi membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung.
Orang-orangan ini diberi baju dan bertopi, yang hingga kini masih dapat kita
saksikan di sawah-sawah menjelang panen. Petani Betawi menyanyikan lagu sambil
menggerak-gerakkan tangan orang-orangan sawah itu. Jika panen tiba petani
bergembira. Sawah subur, karena diyakini Dewi Sri menyayangi mereka. Dewi Sri, menurut
mitologi Hindu, adalah dewi kemakmuran. Penduduk mengarak barongan yang
dinamakan ondel-ondel untuk menyatakan mereka punya kagumbiraan. Ondel-ondel pun diarak dengan membunyikan gamelan. Nelayan juga bergembira menyambut panen laut. Ikan segar
merupakan rezeki yang mereka dapatkan dari laut. Karenanya mereka mengadakan
upacara nyadran. Ratusan perahu nelayan melaut mengarak kepala
kerbau yang dilarungkan ke laut.
Abad ke-7
Pada abad ke-7 Kerajaan
Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk Melayu
dari Sumatra. Mereka mendirikan permukiman di pesisir Jakarta. Kemudian bahasa
Melayu menggantikan kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa pergaulan. Ini
disebabkan terjadinya perkawinan antara penduduk asli dengan pendatang Melayu.
Bahasa Melayu mula-mula hanya dipakai di daerah pesisir saja kemudian meluas
sehingga ke daerah kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Bagi masyarakat Betawi keluarga punya arti penting.
Kehidupan berkeluarga dipandang suci. Anggota keluarga wajib menjunjung tinggi
martabat keluarga. Dalam keluarga Betawi ayah disebut baba. Tetapi ada juga yang menyebutnya babe, mba, abi atau abah — pengaruh para pendatang dari Hadramaut, Yaman. Ibu disebut mak. Tetapi tidak kurang banyaknya yang menyebut umi
atau enya' dari kata nyonya. Anak pertama dinamakan anak bongsor dan anak
bungsu dinamakan anak bontot.
Abad ke-10
Pada
sekitar abad ke-10. Saat terjadi persaingan antara orang Melayu yaitu Kerajaan
Sriwijaya dengan orang Jawa yang tak lain adalah Kerajaan
Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Tiongkok
ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian
tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah Barat mulai dari Cimanuk
dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kerajaan
Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.
Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di
Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa
bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan
migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode itulah
terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yang pada gilirannya –
karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin awal – bahasa
Melayu yang mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di
Kerajaan Kalapa. Sejarahwan Ridwan Saidi mencontohkan,
orang “pulo”, yaitu orang yang berdiam di Kepulauan
Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang dan
membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim kulon”
(bahasa Sunda), orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan “milir”, “ke
hilir” dan “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian barat) untuk
mengatakan “ke kota” dan “orang kota”.
Periode
kolonialisasi Eropa
Abad ke-16
Perjanjian
antara Surawisesa (raja Kerajaan
Pajajaran) dengan bangsa Portugis pada
tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan
perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang
menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong atau
dikenal sebagai Keroncong Tugu.
Setelah VOC menjadikan
Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja
untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika
itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih
berlangsung praktik perbudakan. Itulah penyebab masih tersisanya kosakata
dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia
menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan
India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak
jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan
Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah
mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia, Kampung
Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar
dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jalan Mangga Dua di daerah
kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690.
Abad ke-19
Pada April 1967 di majalah Indonesia terbitan Cornell University, Amerika,
sejarahwan Australia, Lance Castles mengumumkan
penelitiannya menyangkut asal usul orang Betawi. Hasil penelitian yang berjudul
“The Ethnic Profile of Jakarta” menyebutkan bahwa orang Betawi terbentuk
pada sekitar pertengahan abad ke-19 sebagai hasil proses peleburan dari
berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.
Secara singkat
sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari:
·
Daghregister, yaitu catatan harian
tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
·
Catatan Thomas
Stanford Raffles dalam History of
Java pada tahun 1815.
·
Catatan penduduk pada Encyclopaedia van
Nederlandsch Indie tahun 1893
·
Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1930.
Oleh karena klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relatif sama,
maka ketiganya dapat diperbandingkan, untuk memberikan gambaran perubahan
komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Sebagai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan
situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah data sejarah yang
tersedia yang relatif meyakinkan walaupun hasil kajian yang dilakukan Castles
mendapatkan banyak kritikan karena hanya menitikberatkan kepada skesta sejarah
yang baru ditulis tahun 1673.
Mengikuti kajian Castles, antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. memperkirakan
etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Di zaman kolonial
Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus,
yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus
penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi
tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan
hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab
dan Moor,
orang Melayu, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi
Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda. Kemungkinan kesemua
suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan
penduduk pribumi (bahasa Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok
etnis Betawi.
Abad ke-20
Pada
zaman kolonial Belanda tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada
justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah
orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu
itu. Namun menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak
3500-3000 tahun sebelum masehi. Antropolog Universitas
Indonesia lainnya, Prof. Dr. Parsudi
Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal
pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan
sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat
tinggal mereka, seperti orang Kemayoran,
orang Senen,
atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok
etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas,
yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin,
tokoh masyarakat Betawi mendirikan Pemoeda Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu
pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni
golongan orang Betawi.
Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. berpendapat
bahwa hingga beberapa waktu yang lalu penduduk asli Jakarta mengidentifikasikan
dirinya sebagai orang Melayu atau menurut lokasi tempat tinggal mereka, seperti
orang Kwitang; orang Kemayoran;
orang Tanah Abang dan seterusnya. Setelah
tahun 1970-an yang merupakan titik balik kebangkitan kebetawian di Jakarta
telah terjadi pergeseran lebel dari Melayu ke Betawi. Orang yang dulu menyebut
kelompoknya sebagai Melayu telah menyebut dirinya sebagai orang Betawi.
Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup
masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga
mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto
Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu yang
umum digunakan di Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Brunei dan Thailand
Selatan yang kemudian dijadikan sebagai bahasa
Indonesia.
Setelah
kemerdekaan
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah
kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia,
sehingga orang Betawi dalam arti apapun juga tinggal sebagai minoritas. Pada
tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara
2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran,
bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari
berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui
proses panjang itu pulalah salah satu caranya ’suku’ Betawi hadir.
2.
Seni dan Kebudayaan

Seni
dan Budaya asli Penduduk Jakarta atau Betawi dapat dilihat dari temuan arkeologis,
semisal giwang-giwang yang ditemukan dalam penggalian di Babelan, Kabupaten
Bekasi yang berasal dari abad ke-11 masehi. Selain itu budaya
Betawi juga terjadi dari proses campuran budaya antara suku asli dengan dari
beragam etnis pendatang atau yang biasa dikenal dengan istilah Mestizo.
Sejak zaman dahulu, wilayah bekas kerajaan Salakanagara atau kemudian dikenal
dengan "Kalapa" (sekarang Jakarta)
merupakan wilayah yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara,
Percampuran budaya juga datang pada masa Kepemimpinan Raja Pajajaran, Prabu
Surawisesa di mana Prabu Surawisesa mengadakan perjanjian dengan Portugal dan
dari hasil percampuran budaya antara Penduduk asli dan Portugal inilah lahir
Keroncong Tugu. Suku-suku yang mendiami Jakarta sekarang antara lain, Jawa, Sunda, Melayu, Minang, Batak,
dan Bugis.
Selain dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya
luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku
Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk
pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di
provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten.
Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun
budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
3.
Bahasa

Sifat campur-aduk dalam bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau
Melayu Batavia adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang
merupakan hasil dari asimilasi kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain
di Nusantara maupun kebudayaan asing. Ada juga yang berpendapat bahwa
suku bangsa yang mendiami daerah sekitar "Kalapa" (sekarang Jakarta)
juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto-Betawi). Menurut sejarah,
Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura, pernah diserang dan
ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatra. Oleh karena itu, tidak heran
kalau penduduk asli Betawi yang pada awalnya berbahasa Kawi dan mendiami daerah
sekitar pelabuhan Sunda Kalapa (jauh sebelum Sumpah Pemuda) sudah menggunakan bahasa Melayu, bahkan ada juga yang mengatakan suku lainnya semisal suku
Sunda yang mendiami wilayah inipun juga ikut menggunakan Bahasa Melayu yang
umum digunakan di Sumatra dan Kalimantan Barat, penggunaan bahasa ini dikarenakan semakin banyaknya
pendatang dari wilayah Melayu lainnya semisal Kalimantan Barat dikarenakan
dianggap abainya Syailendra ketika dimintai tolong oleh Sriwijaya untuk menjaga
wilayah perairan laut sebelah barat Sungai Cimanuk sebagai hasil Perjanjian
Damai Sriwijaya-Kediri yang dimediasi oleh Tiongkok yang kemudian dijadikan
sebagai bahasa nasional.
Karena
perbedaan bahasa yang digunakan antara suku Betawi dengan suku Sunda di
wilayah lainnya tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang
yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda
dan menyebutnya sebagai etnis Betawi. Walau demikian, masih banyak nama daerah
dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti
kata Ancol, Pancoran, Cilandak,
Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan
kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng),
dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah
kuno Bujangga
Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford,
Inggris.
Meskipun
bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa
Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah
Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu
dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya
berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a".
Dialek Betawi pusat atau tengah sering kali dianggap sebagai dialek Betawi
sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah
perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing,
Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di
Meester (Jatinegara).
Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga
ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah
adalah Benyamin Sueb, Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang
berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur
dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile.
Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa).
Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir
bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca
mengaji Al Quran.
4.
Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, orkes Samrah berasal dari Melayu, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti
"Kicir-kicir".
5.
Tari dan drama
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya
masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi,[18] Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek, tari silat dan
lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan
Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing.
Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama
juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis. Drama
tradisional Betawi antara lain lenong dan tonil. Pementasan lakon
tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi,
dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran
lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.
6. Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat
yang sudah dikenal seperti Si Pitung,
juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau Si
Jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan
maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara
atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang
menggambarkan kehidupan zaman kolonial. Cerita lainnya ialah Mirah dari
Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan
yang lainnya.
7. Senjata tradisional
Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan dari kayu.
8.
Rumah tradisional
Rumah tradisional/adat Betawi adalah rumah kebaya.
Terdapat pula rumah tradisional lain seperti rumah panggung Betawi. Suku Betawi
mengenal tradisi Bikin Rume yang dilakukan ketika hendak
membangun rumah.
9.
Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi
menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun
hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang
menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan
bangsa Portugis.
Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Pajajaran
mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun
benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga
terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang
masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
10.
Perilaku dan sifat
Asumsi kebanyakan
orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi
ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang
berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad
Husni Thamrin, Benyamin Sueb,
dan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta periode
2007-2012. Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial
mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu
berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai
agama yang tercermin dari ajaran orang tua (terutama yang beragama Islam) kepada
anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat
dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dengan pendatang dari luar
Jakarta.
Orang Betawi sangat
menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga
yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa
seperti lenong, ondel-ondel, gambang
kromong, dan lain-lain. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa
keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh
modernisasi di lahan lahirnya sendiri. Namun tetap ada optimisme dari
masyarakat Betawi terhadap generasi mendatang yang justru akan menopang
modernisasi tersebut.
11.
Profesi
Di Jakarta,
orang Betawi sekarang sebagai hasil asimilasi antar suku bangsa, sebelum
era Orde Baru,
terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung)
mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan
sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kamboja Jepang,
dan lain-lain) dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik.
Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan
pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang
sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para
peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah
tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana
semisal Ji'ih teman seperjuangan Si Pitung dari
Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak
zaman Belanda, meski kemampuan pencak silat mereka
juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustaz, dan profesi pedagang eceran juga
kerap dilakoni.
Warga Tebet aslinya adalah orang-orang
Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang
dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan
sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks
olahraga Gelora Bung Karno yang dikenal sekarang
ini. Karena salah satu asal-muasal berkembangnya suku Betawi adalah dari
asimilasi (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan
lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang etnis dan bauran etnis dasar
masing-masing.
12.
Tokoh
H. Benyamin Sueb -
seniman, aktris, penyanyi, presenter
Ida Royani - aktris, penyanyi, designer
H. M. Bokir - seniman
topeng
H. Malih - seniman lenong
H. Bolot - seniman lenong
Deddy Mizwar - aktor, sutradara, tokoh
perfilman, Wakil Gubernur Jawa Barat (2013-2018)
Fauzi Bowo - Gubernur DKI Jakarta (2007-2012)
Firman Muntaco - sastrawan
Hassan Wirajuda - mantan Menteri Luar
Negeri
Ismail Marzuki - pahlawan nasional,
seniman
Dewi Rezer - artis
Mpok Nori - seniman topeng/lenong
Mandra - artis
Mastur - artis
Mat Solar - artis
Dewi Sandra - artis, penyanyi
Muhammad Husni Thamrin - pahlawan nasional
H. M. Nasir - seniman topeng/lenong
Nawi Ismail - sutradara, tokoh perfilman
Noer Alie - pahlawan nasional, ulama
Omaswati - artis
Ridwan Saidi - budayawan, politisi
SM Ardan - sastrawan
Asmirandah - aktris, penyanyi
Intan Nuraini - aktris, penyanyi
Zee Zee Shahab -
aktris, presenter
Aelke Mariska - aktris, model
Surya Saputra - aktor, penyanyi
Suryadharma Ali - Mantan Menteri Agama
Tuty Alawiyah - mubalighat, tokoh
pendidik, mantan menteri
Ussy
Sulistyowati - artis
Zainuddin MZ - ulama
David Nurbianto - Komedian
Saefullah - Sekda DKI Jakarta (2014–2020)
Alika - penyanyi, anggota grup vokal
wanita Princess
Alya Rohali - aktris, presenter, Puteri Indonesia 1996
13. Kuliner
Masakan khas Betawi antara lain gabus pucung, laksa betawi. sayur babanci, sayur godog, soto Betawi, ayam sampyok, kerak telor, asinan Betawi, soto tangkar dan nasi uduk.
14.
Kue- kue
Kue-kue khas Betawi misalnya kue cucur, kue rangi, kue talam, kue kelen, kue kembang goyang, kerak telor, sengkulun, putu mayang, andepite, kue ape, kue cente manis, kue pepe, kue dongkal, kue geplak, dodol betawi, dan roti buaya.
15.
Minuman
Minuman khas Betawi contohnya adalah es selendang mayang, es goyang, dan bir pletok.