Thursday, June 10, 2021

Tradisi Ruwatan

 


Tradisi ruwatan dilakukan di kalangan masyarakat Jawa. Upacara sakral yang turun menurun untuk menangkal bahaya dari batara kala bagi anak-anak yang lahir sukerta. Bisa dilakukan secara sendiri atau masal.

Boleh percaya, boleh tidak, bukan hanya orang, tapi rumah, hotel, bahkan kampus pun, bisa diruwat. Kampus Gadjah Mada misalnya, setelah mengalami ruwatan pada tahun 1987, barulah terbebas dari kecelakaan lalu lintas, yang dahulu sering terjadi di sekitarnya. Dan entah mengapa, dalam dua tahun terakhir, ruwatan semakin sering diadakan, khususnya di kalangan masyarakat Jawa.

Sebenarnya, ruwatan diselenggarakan untuk anak-anak yang terlahir sebagai anak rawan bencana. Ke dalamnya termasuk anak tunggal (ontang-anting), dua bersaudara lelaki perempuan (kendhana-kendhini), kembar, empat bersaudara (saromba), dan li,a bersaudara ~ (pandawa) semua lelaki atau perempuan semua (pandhawi sarimpi). Mereka ini dianggap menanggung beban sukerta, alias kotor dan punya noda sejak lahir.

Ruwatan biasanya diselenggarakan pagi hari dengan syarat dan prosesi khusus. Berbagai macam sajen harus disediakan. Lima jenis hasil bumi, tumpeng, tujuh jenis rujak, dan bermacam buah-buahan yang dipersembahkan kepada kebesaran Tuhan. Buat anak yang akan diruwat harus disediakan kain kafan enam meter.

Itu saja belum cukup. Sebuh ruwatan yang sempurna harys diisi dengan wayang kulit. Ruwatan memang bermula pada salah satu episode cerita wayang: Murwakala, tentang Batara Kala. Syahdan tersebut kisah, jagat dewata dirisaukan oleh lahirnya sang batara yang satu ini. Dia lahir dari nafsu berahi Batara Guru – raja para Dewa—pada istrinya. Dewi Uma.

Saat itu keduanya sedang melayang di atas samudera. Mengendarai Lembu Andini. Karena itu pula, Uma menolak ajakan Batara Guru. Tapi nafsu sang dewa sudah mencapai puncak hingga spermanya jatuh ke laut, lalau menjelma jadi mahluk raksasa bernama Batara kala, mahluk yang sebenarnya tidak dikehendaki para dewa.



Kala pun tumbuh besar dan sakti mandraguna. Kahyangan gonjang – ganjing ketika Kala mencari bapaknya Mula-mula Batara Guru enggan mengakuinya. Kala marah sekali. Semua dewa yang ingin mengusirnya dihajar sampai babak belur.

Selain sakti. Kala punya selera makan dahsyat. Dia doyan daging manusia. Ini yang membuat Batara Guru dan segala dewa cemas. Karena gentar, dewa-dewa tak berani melarangnya. Maka Batara Guru menyusun siasat dengan membuat perjanjian. Kala dibolehkan turun ke bumi, dan diizinkan memangsa manusia, asalkan anak itu lahir sukera, yakni enam golongan anak tersebut diatas.

Maka korban anak sukerta berjatuhan di muka bumi. Lagi-lagi Batara Guru gundah. Dia mengutus Batara Wisnu ke bumi, yang sekali waktu terlibat pertarungan sengit melawan Kala. Mengapa? Karena Wisnu mencoba melindungi anak ontang-anting yang diburu raksasa rakus ini. Bagusnya seusai pertarungan Kala berjanji tidak akan melahap anak sukerta yang sudah diruwat.

Ruwatan adalah upacara sakral, myang dipimpin oleh seorang dalang, Biasanya, dalang itu haruslah dalang pilihan. Sebelum meruwat dia harus puasa tujuh hati, dan dilarang bermain asmara dengan istri. Satu hal lagi, sebelum bertugas, sang dalang harus mandi air telaga bertabur bunga.

Masih ada satu syarat yang sedikit aneh: sang dalang harus sudah punya menantu. Yang menyenangkan tentu saja, honornya cukup besar, lebih besar dari honor untuk pertunjukan wayangf kulit biasa. “Saya pernah diberi Rp 3 Juta, “ujar raden Tumenggung Probohardjono, dalang dari Keraton Surakarta. Wajar jika biaya ruwatan menjadi sangat mahal. Tak jarang penyelenggara harus menyediakan minimal Rp 6 Juta – Rp 7 Juta.

Sebenarnya, ruwatan bisa berlangsung tanpa menanggap wayang kulit. Boleh dengan membaca doa-doa saja. “Yang penting tujuannya mencari keselematan, ujar H. Karkono Kamajaya Partokusumo, Ketua Lembaga Javanologi Yayasan Panunggalan, Yogyakarta.

Tapi bagi keluarga kaya, ruwatan dijadikan peluang untuk menunjukan status sosialnya. Keluarga Syamsuddin, misalnya, pernah meruwat sekaligus menikahkan putri tunggalnya Retno Lawiyani.

Bagi Syamsuddin yang seorang pengusaha sukses, uang sebegitu itu perkara gampang. Lain halnya dengan keluarga yang hidup pas-pasan. Lalu, Desember tahun lalu, manajemen Hotel Ambararukmo, Yogyakarta, untuk pertama kali menawarkan paket ruwatan masal, sekaligus untuk 22 keluaraga, masing-masing Cuma dikenai biaya Rp 250 ribu.

 

 


Previous Post
Next Post