Thursday, June 10, 2021

Suku Asmat


 

Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua, yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi itu saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, struktur sosial, dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.

Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang di pakai suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.

Sekarang biasanya kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarganya, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.



 

KEHIDUPAN SUKU ASMAT

            Sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri.

            Suku Asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. Mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah, untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan, sedangkan warna hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Cara menggunakannya pun cukup sederhana. Hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah dapat digunakan untuk mewarnai tubuh.

            Selain budaya, penduduk kampung Syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku Asmat pada umumnya. Ukiran bagi suku Asmat dapat menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. Setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku Asmat.



            Umumnya mereka membuat patung dan ukiran tanpa sketsa. Bagi suku Asmat, saat mengukir patung adalah saat mereka berkomunikasi dengan leluhur yang ada di alam itu. Hal itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam persinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga).

            Percaya sebelum memasukan surga arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan dapat berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti patung Bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat sagu.

Previous Post
Next Post