Ngaben merupakan upacara pembakaran jasad yang dilakukan umat
Hindu di Bali, Indonesia. Uparaca ngaben dimaksudkan
untuk menyucikan roh anggota keluarga yang sudah meninggal yang akan menuju ke
tempat peristirahatan terakhir. Kata ‘ngaben’ memiliki arti bekal atau abu yang
secara simbolis mengenai pelepasan akhir kehidupan manusia. Dalam kepercayaan
Hindu, Dewa Brahmana sebagai dewa pencipta juga memiliki wujud sebagai Dewa
Api.
Api yang membakar
jasad dipercaya merupakan jemlaan Dewa Brahmana, dapat membakar semua hal
negatif serta kekotoran yang melekat pada roh jasad. Ritual ngeben dilaksanakan
secara meriah bersama ratusan hingga ribuan mayat. Sebab biaya untuk mengadakan
upacara ngaben tidaklah murah. Biasanya upacara ngaben dilaksanakan dari orang
terdekat atau saudara dari orang yang telah meninggal tersebut. Biaya yang
dikeluarkan untuk upacara ngaben ini sekitar 15 juta sampai 20 juta rupiah. Ngaben
dilaksanakan dengan semarak dan meriah sebab di Bali meyakini roh atau arwah
akan terhambat menuju tempatnya jika terdapat isak tangis. Upacara Ngaben
sendiri sebenarnya terdapat lima jenis tradisi yang dibedakan menurut cara
pelaksanaannya.
Bentuk-bentuk
upacara Ngaben
1.
Ngaben Sawa
Wedana
Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan
melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya
upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari
meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara dengan
skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung hingga sebulan. Sementara pihak
keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan
diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian
ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian
ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih
ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti
selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping
jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang
disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada
dilingkungan keluarganya.upacara ini termasuk upacara yang tergolong familia
Cerambycidae.
2.
Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana adalah upacara ngaben
yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai
dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang
bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini
dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara
tertentu di mana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara
kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan
setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu
Pertiwi).
3.
Swasta
Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlibatkan
jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal,
seperti: meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan,
dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana
(pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma
orang yang bersangkutan.
4.
Ngelungah
Ngelungah adalah upacara untuk anak
yang belum tanggal gigi.
5.
Warak Kruron
Warak Kruron adalah upacara untuk bayi.
Tujuan Upacara Ngaben
Upacara
ngaben secara konsepsional memiliki makna dan tujuan sebagai berikut:
1.
Dengan membakar
jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut
memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian
sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).
2.
Membakar jenazah juga
merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha
Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya
masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka.
3.
Bagi pihak keluarga,
upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan
merelakan kepergian yang bersangkutan.
Rangkaian
Upacara Ngaben
1. Ngulapin
Upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini
juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal luar rumah yang
bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dapat berbeda-beda
tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan
jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.
2. Nyiramin / Ngemandusin
Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang
biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi
ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga
hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan
lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh
yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami
reinkarnasi kembali agar dianugerahi badan yang lengkap (tidak cacat).
3. Ngajum Kajang
Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan
aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah
selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan
melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x,
sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan
menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan
perjalanannya ke alam selanjutnya.
4. Ngaskara
Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian
ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan
Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
5. Mameras
Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai.
Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut
keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan
karma baik yang mereka lakukan.
6. Papegatan
Papegatan berasal dari
kata pegat, yang artinya
putus. Makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari
kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh
menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas
melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini
adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi
dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang
putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh
kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.
7. Pakirman Ngutang
Di laksanakan setelah
upacara papegatan yang dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat,
jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara
pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda
biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat
akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara
"Baleganjur" (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau
suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan
diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol
mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu
perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai
simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan
pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar
3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
8. Ngeseng
Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah
dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan
makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara
dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja
Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga
hangus, Tulang-tulang hasil pembakaran kemudian dikumpulkan dan dirangkai
sesuai posisi tulang belulang itu sendiri pada tubuh saat masih utuh. Rangkaian
dilakukan sedapatnya tulang yang terkumpul, tidak harus lengkap. Rangkaian
tulang belulang itu diupacarai kemudian digilas dan dimasukkan ke dalam buah
kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya. Sisa tulang lainnya yang bercampur
arang kayu dan sulit dikumpulkan dibungkus kain kafan.
9. Ngayud
Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala
kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa
menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai.
10.
Makelud /
Ngaroras
Makelud biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara
pembakaran jenazah. Dalam bahasa Bali, 12 adalah roras. Makna upacara
makelud/ngaroras ini adalah melepaskan Ekadasa Indrya (sebelas indria) dan
menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga
yang ditinggalkan. Setiap hari dilepas 1 indria hingga hari ke-11. Di hari
ke-12 dilakukan upacara penyucian. Mengenai Ekadasa Indrya dapat dibaca pada
Manawa Dharma Sastra.
Ngaben Massal
Ngaben massal
merupakan proses ngaben yang dilakukan oleh lebih dari satu pihak, bisa satu
klan, satu desa, atau lingkup yang lebih luas, cara ini dianggap lebih efisien
dan ekonomis, karena pihak yang terlibat tidak hanya satu lingkup keluarga,
dengan asumsi semakin ramai yang mengikuti semakin murah biaya yang dikeluarkan.



